November 14, 2005

Meneladani Allah Yang Mahasuci

Meneladani Allah Yang Mahasuci
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Manusia punya standar kesempurnaan. Namun, sesempurna apapun dalam
pandangan manusia, pasti tidak menjangkau kesempurnaan Allah yang
sesungguhnya. Allah adalah Dzat Yang Mahakuasa, penggenggam alam
semesta. Betapapun Allah memiliki kesempurnaan dalam kekuasaan,
namun Dia Mahasuci dari sifat kedhaliman, kerusakan, dan kehinaan.
Mahasuci Allah yang tidak tersentuh dari sisi manapun kekurangan-
Nya.

Al-Quddus adalah salah satu asma’ Allah. Dalam Alquran, kata Al-
Quddus (atau Yang Mahasuci), sering didampingkan dengan kata Al-
Malik (Raja atau Penguasa). Misalnya dalam QS Al-Hasyr ayat 23 dan
Al-Jumu’ah ayat 1. Dalam kamus Bahasa Arab, Al-Quddus adalah yang
suci murni atau yang penuh keberkatan. Dari sini muncul berbagai
penafsiran dari kata Al-Quddus, di antaranya terpuji dari segala
macam kebajikan.

Imam Al-Ghazali mengatakan, Allah sebagai Al-Quddus adalah Dia yang
tidak terjangkau oleh indera, tidak dapat dikhayalkan oleh
imajinasi, dan tidak dapat diduga oleh lintasan nurani. Demikian
sempurnanya Allah SWT. Dia tidak terkejar Bentuk dan Dzat-Nya oleh
kekuatan indera. Indera kita terlalu lemah untuk menjangkau
keagungan Allah yang menggenggam alam semesta ini.

Mahasuci Allah dari beranak dan diperanakan. Bagi umat Islam, Allah
tidak diserupai dan menyerupai apapun (laisa kamitslihi syai’un).
Jadi, kalau ada yang menganggap Allah itu menyerupai sesuatu, maka
pendapat itu tidak bisa diterima. Karena sesuatu itu pasti makhluk,
dan setiap makhluk pasti ada kelemahan. Apalagi menyerupakan Allah
dengan manusia.

Mahasuci Allah secara zat dan perbuatan-Nya. Tidak ada satupun
perbuatan Allah yang cacat atau gagal. Mengatakan cacat dan gagal
pada perbuatan Allah pun tidak layak. Allah tidak mungkin berbuat
sesuatu yang gagal. Mahasuci Allah dari yang dianggap sempurna oleh
makhluk. Manusia punya standar kesempurnaan. Namun, sesempurna
apapun dalam pandangan manusia, pasti tidak menjangkau kesempurnaan
Allah yang sesungguhnya.

Akal manusia terbatas. Ia hanya mengenal 26 abjad dan sepuluh angka.
Bagaimana mungkin kita yang serba terbatas bisa menilai kesempurnaan
Allah, Dzat Penggenggam langit dan bumi? Hikmah apa yang bisa kita
diambil dari sifat Al-Quddus ini? Pertama, kita bisa menikmati
apapun ketetapan Allah tanpa prasangka buruk. Allah telah
berjanji, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku”. Berburuk sangka kepada
Allah akan menjadi malapetaka bagi kita. Kita harus tetap
khusnudzan, pasti ada hikmah di balik setiap kejadian. Maka,
nikmatilah setiap kejadian sebagai sarana evaluasi diri. Yang
terpenting, kejadian apapun yang menimpa harus mengubah kita menjadi
lebih baik.

Kedua, siap dengan ketidaksempurnaan diri. Apa yang kita banggakan
sebagai manusia bila tanpa iman? Kita serba kalah oleh binatang.
Masuk ke air, ikan lebih lincah. Meski kita bisa menjadi pelari
tercepat, masih kalah cepat dari kuda. Manusia pun masih kalah kuat
dengan badak, kalah besar dari gajah. Hanya kekuatan imanlah yang
membuat kita lebih tinggi dari makhluk apapun. Mari kita tutup pintu
kesombongan diri dan bukalah lebar-lebar pintu ketawadhuan. Sebab,
tiadalah orang yang rendah hati, kecuali Allah akan meninggikan
derajatnya.

Ketiga, siap dengan kekurangan orang lain. Kita harus siap
menghadapi kenyataan bahwa orang terdekat kita (khususnya pasangan
hidup) tidak sempurna. Secara fisik mungkin mendekati kesempurnaan,
tapi akhlak tidak ada yang sempurna. Ada yang pemarah, pelit, atau
egois. Kita harus terlatih menghadapi orang-orang terdekat kita,
baik pasangan hidup, orangtua, anak maupun pembantu di rumah.
Kesiapan mental dalam menerima kekurangan dan keterbatasan orang
lain, insya Allah akan membuat kita lebih mampu bersikap bijaksana.
Orang yang stres dalam hidup adalah orang yang selalu ingin sempurna
dalam segala hal. Ingin yang terbaik boleh, tapi ingin sempurna
tidak pernah ada. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Memang kita
harus melakukan perencanaan yang matang, persiapan yang optimal, dan
pelaksanaan yang hati-hati, tapi kita harus siap pula bahwa hasil
yang dicapai tidak akan pernah sempurna.

Saudaraku, sikapi kekurangan orang lain sebagai ladang amal bagi
kita. Kita harus siap menerima kenyataan bahwa tidak semua orang
akan menyukai kita. Lebih baik terus konsisten memperbaiki diri dan
berbuat yang terbaik. Allah yang akan mengatur hati setiap orang.
Semua hati manusia ada dalam genggaman Allah. Inilah yang membuat
kita harus selalu berbaik sangka pada-Nya dalam kondisi apapun.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : http://republika.co.id

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://eddyramdan.blogsome.com/2005/11/14/meneladani-allah-yang-mahasuci/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>